Mobil sedan hitam itu berhenti tepat di sebuah rumah berlantai satu. Rumah itu tampak sederhana. Namun terlihat bahwa penghuni rumah sangat ekstra dalam merawatnya. Halaman depan ditumbuhi rumput yang terawat dengan bunga mawar warna-warni dan sebatang pohon mangga kecil yang berdaun lebat. Rumah bercat putih itu terasa sangat hangat dalam sekali lihat.
Seorang perempuan paruh baya bermata sipit dan berkulit putih susu muncul dari depan pintu dengan senyum hangat. Ia langsung menghampiri sepasang kekasih yang baru saja datang itu.
“Aidaaaaa” perempuan itu memeluk Aida erat. Aida balas memeluknya.
“Mamaa. Aida kangeen” Nata yang menyaksikan dua wanita yang paling ia sayang saling melepas rindu hanya tersenyum. Sang mama melepas pelukannya dan menarik Aida ke dalam.
“Mama ngga kangen anaknya apa?” Mama berbalik dan melirik Nata. Ia mengacak rambut anak bungsunya itu.
“Kamu yang ngga kangen sama mama. Jarang banget pulang” Mama merengut. Nata mengikuti ekspresi mamanya membuat wajahnya terlihat lucu. Aida terkekeh melihat tingkah ibu dan anak itu. “Papa kamu lagi beli air mineral ke luar. Bentar lagi juga balik. Ayo duduk dulu. Masakan mama udah siap” ia mendorong anak dan calon menantunya untuk duduk di meja makan.
Interior di rumah itu juga tampak dipilih dengan hati-hati. Dindingnya dicat putih bersih. Saat melangkahkan kaki, tamu akan disambut dengan satu set sofa abu-abu dan meja kaca yang kakinya terbuat dari kayu pohon yang masih berbentuk pohon yang dipotong pendek. Foto keluarga terpajang rapi di dinding. Sebuah lemari jati tak berkaca dihiasi beberapa penghargaan dan figurin cantik. Lalu meja makan terletak di tengah di depan dapur yang selalu penuh dengan bahan makanan. Di sisi kiri adalah ruang keluarga dengan sofa biru tempat Nata biasa bermalas-malasan dulunya. Dari sana tampak jelas halaman terawat dari jendela kaca besar yang memisahkan halaman belakang dengan ruang keluarga. Ada satu kamar utama di samping ruang tamu dan dua kamar yang lebih kecil di samping ruang keluarga.
“Gulai ikan kakap” pekik Aida senang menatap berbagai maca, makanan yang telah dihidangkan di meja. Mama mengerlingkan sebelah mata ke arahnya.
“Mama tahu kamu suka banget” Mama merangkul bahu Aida dan mengelusnya lembut.
“Aku?” tanya Nata.
“Kamu udah mama siapin nasi sebakul" mama menunjuk nasi di dalam bakul yang tampak masih hangat. Obrolan mereka terpotong suara bapak yang baru saja datang membawa segalon air mineral. Dengan cepat Nata membantu ayahnya membawa galon.
“Loh udah pada sampai" Pria berwajah bersih tanpa kumis itu tersenyum ramah. “Ayo makan. Papa udah lapar” Ia duduk di kursi dan mengajak semua orang mengikutinya.
Makan malam itu dihiasi dengan tawa dan cerita. Nata yang bercerita soal teman-temannya. Aida yang bercerita tentang pekerjaannya. Lalu orang tua mereka yang bercerita panjang tentang kehidupan mereka setelah pensiun. Mama menceritakan usaha barunya memasak sarapan untuk dibeli tetangga kompleks. Sedangkan Papa Nata sibuk dengan kebun kecilnya. Lalu sampailah pada maksud sebenarnya Nata dan Aida datang ke rumah. Menyampaikan rencana pernikahan mereka. Orang tua Nata tertegun. Mama lebih tepatnya terkesiap. Ia menatap sepasang kekasih itu bergantian. Kebahagiaan menyeruak dari matanya yang berkaca-kaca. Ia menatap Aida lama. Ingin meminta maaf sekaligus berterimakasih telah memilih kembali keluarganya. Setelah apa yang telah terjadi. Kebahagiaannya membuncah dalam bentuk tangis kebahagiaan.
“Mama dan Papa mendukung penuh keputusan kalian” ujar Papa tersenyum.
“Mama senang sekali nak” ujar sang Mama di sela isak tangisnya. “Mama doakan yang terbaik untuk kalian berdua”
Aida tersenyum “Aida masih mau jadi mantu mama” ujarnya “Di mana lagi Ai bisa ketemu gulai ikan kakap seenak ini” kelakarnya membuat Mama ikut tertawa.
“Udah Nata bilang. Gulai ikan kakap mama emang paling ampuh” tambah Nata
Tanpa terasa makanan di atas meja sudah berkurang banyak. Nata dan Papa dengan sigap membersihkan piring kotor dan mencucinya. Sedangkan Mama mengajak Aida memotong buah.
“Pa” ujar Nata di sela suara piring yang beradu dan percikan air. “Barang-barang studio mas Nare ditaro di mana?” pertanyaan Nata terdengar datar. Gerakan mama terhenti seketika. Ia melirik Aida yang tampak fokus dengan mangga di tangannya.
“Semua barang mas mu mama simpan di kamarnya" jawab mama terdengar sendu di suaranya yang berusaha ia tutupi dengan senyuman.